Jakarta, Newsindonesia.biz.id - Pengamat Kurikulum Merdeka Rofiq Ali Muhsin mengemukakan pentingnya membedakan Pendidikan Berbasis Nilai dan Pendidikan Karakter. "Ambigu. Tapi ada bedanya," tuturnya
Pernyataan itu disampaikan dalam Diklat Nasional 32JP, dengan tema, “Generasi Berintegritas: Mengoptimalkan Pembelajaran Berbasis Nilai untuk Penguatan Karakter Siswa”, yang diselenggarakan komunitas Ruang Temu Guru, Senin, (29/10), lewat aplikasi zoom meeting.
Turut hadir dalam acara itu Maurensyiah P., SS., M.Pd., Ketua Forum Guru Penggerak Nasional yang bertindak sebagai key note speaker sekaligus membuka acara.
Dalam diklat yang diikuti 1000 guru peserta itu, Ketua Nasional II (Sumatra Jawa Kalimantan) Forum Guru Penggerak Indonesia Rofiq Ali Muhsin menyampaikan kedua hal itu berbeda namun berhubungan.
"Pendidikan nilai berfokus pada pengajaran nilai-nilai moral dan etika, mengajarkan mana yang benar dan salah berdasarkan norma social Sebaliknya, pendidikan karakter lebih mendalam, bertujuan untuk membentuk kebiasaan baik (habituation) yang mendorong siswa untuk memahami, merasakan, dan melakukan kebaikan secara konsisten" paparnya.
"Pendidikan karakter melibatkan internalisasi nilai-nilai melalui pengalaman emosional dan tindakan nyata, menjadikannya lebih komprehensif dalam membentuk kepribadian siswa", Ia menambahkan.
Event tersebut merupakan program rutin komunitas Ruang Temu Guru yang bertujuan meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai kegiatan dan platform agar guru dapat menjawab tantangan terkini.
Ruang Temu Guru merupakan komunitas yang bergerak di bidang peningkatan kualitas guru dan sudah terdaftar di Komunitas PMM serta Bekerjasama dengan Instansi Resmi FISIP Universitas Negeri Semarang. (Dik_ar)

